Archive for February, 2008

Akhirnya Ada..

Sunday, February 10th, 2008

Dulu, kalau masuk toko buku dan mencari karya sastra anak negeri, saya merasa dihadapkan pilihan antara ‘novel sastra islami’ dan ‘novel yang bukan sastra islami’. Tidak ada yang ‘in between’ kedua pilihan itu. Kalaupun ada, mungkin justru karya-karya terjemahan. Dalam pandangan saya, kebanyakan novel sastra “islami” terkadang kurang variatif karena konfliknya seputar cinta yang islami, dakwah para aktivis, poligami atau konflik palestina. Karya-karya Helvy Tiana Rosa, atau novel Ayat-ayat Cinta kang Abik adalah karya yang sangat menyentuh bagi saya, tapi produk ‘latahan’ yang mengikutinya dan membanjiri toko buku menjadikan seolah-olah hikmah dan kebenaran hanya bisa didapat dari setting bersimbol islam. Padahal kebenaran dan hikmah berserakan di banyak pelosok tempat, relung waktu dan ragam peristiwa. Bukan hanya di sekitar komunitas ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’. Akan halnya sastra yang ‘bukan islami’ pun demikian. Karya-karya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu menawarkan konflik dan deskripsi yang orisinal pada awalnya, tetapi produk latahannya cenderung hanya mengadopsi sensasi keterbukaannya namun abai akan keindahan, apatah lagi hikmah.

Kerinduan akan novel Indonesia yang mengandung nilai-nilai kebenaran yang universal, tapi bisa dibaca semua umur (baca: nggak ada bagian yang perlu disensor seperti halaman-halaman terakhir Saman) dan diterima semua agama dan ideologi (baca: tokoh protagonis-nya nggak perlu wanita berjilbab atau pria mushola), ternyata terjawab oleh novel Laskar Pelangi. Bahwa Laskar Pelangi adalah novel ‘in between’ itu, ternyata terungkap juga oleh Andrea Hirata (waduh sok nyama-nyamain nih), pada acara Bedah Buku di Banda Aceh, Sabtu lalu. Bahkan dia lebih lugas membahasakan kedua kelompok sastra itu menjadi kelompok ‘kiri’ dan ‘kanan’. Andrea Hirata menyebut dua kelompok ini terwakili oleh Komunitas Utan Kayu atau Teater Utan Kayu (TUK) , dan FLP (Forum Lingkar Pena). Ia mengaku tarik-menarik antara dua komunitas tersebut terhadap dirinya cukup kuat, dan Alhamdulillah ia tetap memposisikan dirinya sebagai bukan salah satu dari 2 mainstream itu. Sebagaimana karya sukses lainnya, kemungkinan akan muncul produk ‘latahan’ dari Laskar Pelangi, saya sih cuma berharap mudah-mudahan saja produk ‘latahan’ nanti justru mengadopsi ide-ide kebenaran universal. Waduh, jadi pingin nulis juga deh. Oh ya, satu lagi pesan si penulis Laskar Pelangi: Jangan menulis buku dengan motivasi menjadi best seller… karena karya yang paling bermutu adalah yang datang dari hati.