liburan di kota kurang hiburan

March 21st, 2008 by apop

20,21,22,23 Maret. Kata Zulfan: "Liburan kemana, Pop? 4 hari di Banda Aceh bisa mati bosen!". Dan Zulfan akhirnya salah satu yang ‘menyerah’ untuk berlibur di Banda, dia pergi ke Medan. Komentarnya saat gue bilang, gue lagi nongkrong di hotel Oasis, order cappucino n apple pie ice cream yang dihabisin lama-lama biar bisa browsing gratis di sofa empuk "Itu ciri-ciri orang frustasi…gue di Medan, gak tahan!" Hehehe….Tinggallah gue berdua dengan Vika. Karena gue sendirian menempati mess dengan 7 kamar, Vika juga sendirian di mess 9 kamar, jadilah kita berkolaborasi membunuh sepi, dan untuk pertama kalinya gue nginep di mess Lamgugop yang ‘kesohor’ itu… maksudnya, kesohor jauhnya, airnya kotor, dan agak-agak haunted..hahahah (Sori, vik!). Untuk sementara sebagian besar pendatang di Banda Aceh sesaat lenyap dari peredaran jalan-jalan utama di Banda, sepintas memberikan gambaran gimana kira-kira kota ini kalau semua pekerja ‘kemanusiaan’ atau ‘development workers’, atau ‘tsunami-related workers’ atau whatever lah… hengkang dari Banda. Masih ada 2 hari libur lagi, gue ama Vika berencana berenang dan….ngantor!!! Hehehe…. Intinya sih, tengkyu ya Vik buat menjadi partner in crime dalam membunuh sepi. Ternyata, lumayan banyak juga hal-hal menyenangkan yang  gue dapet dari berkolaborasi dengan perempuan yang aneh dan insensitif seperti dirimu….perempuan sok mellow emosional padahal tegar (atau datar? datar karena mengenyam pait asem hidup?? ) Thanks buat: 1) udah ‘menghindarkan’ gue dari my guilty pleasure :p 2) udah minjemin gue buku bagus the Kite Runner, yang membuat kita nyablak gak penting tentang perasaan bersalah 3) udah masakkin gue sambel teri n tempe 4) hmm…apalagi ya, masih ada besok…. kayaknya to be continued aja… udah dijemput mas Ipung buat pulang ya?

Akhirnya Ada..

February 10th, 2008 by apop

Dulu, kalau masuk toko buku dan mencari karya sastra anak negeri, saya merasa dihadapkan pilihan antara ‘novel sastra islami’ dan ‘novel yang bukan sastra islami’. Tidak ada yang ‘in between’ kedua pilihan itu. Kalaupun ada, mungkin justru karya-karya terjemahan. Dalam pandangan saya, kebanyakan novel sastra “islami” terkadang kurang variatif karena konfliknya seputar cinta yang islami, dakwah para aktivis, poligami atau konflik palestina. Karya-karya Helvy Tiana Rosa, atau novel Ayat-ayat Cinta kang Abik adalah karya yang sangat menyentuh bagi saya, tapi produk ‘latahan’ yang mengikutinya dan membanjiri toko buku menjadikan seolah-olah hikmah dan kebenaran hanya bisa didapat dari setting bersimbol islam. Padahal kebenaran dan hikmah berserakan di banyak pelosok tempat, relung waktu dan ragam peristiwa. Bukan hanya di sekitar komunitas ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’. Akan halnya sastra yang ‘bukan islami’ pun demikian. Karya-karya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu menawarkan konflik dan deskripsi yang orisinal pada awalnya, tetapi produk latahannya cenderung hanya mengadopsi sensasi keterbukaannya namun abai akan keindahan, apatah lagi hikmah.

Kerinduan akan novel Indonesia yang mengandung nilai-nilai kebenaran yang universal, tapi bisa dibaca semua umur (baca: nggak ada bagian yang perlu disensor seperti halaman-halaman terakhir Saman) dan diterima semua agama dan ideologi (baca: tokoh protagonis-nya nggak perlu wanita berjilbab atau pria mushola), ternyata terjawab oleh novel Laskar Pelangi. Bahwa Laskar Pelangi adalah novel ‘in between’ itu, ternyata terungkap juga oleh Andrea Hirata (waduh sok nyama-nyamain nih), pada acara Bedah Buku di Banda Aceh, Sabtu lalu. Bahkan dia lebih lugas membahasakan kedua kelompok sastra itu menjadi kelompok ‘kiri’ dan ‘kanan’. Andrea Hirata menyebut dua kelompok ini terwakili oleh Komunitas Utan Kayu atau Teater Utan Kayu (TUK) , dan FLP (Forum Lingkar Pena). Ia mengaku tarik-menarik antara dua komunitas tersebut terhadap dirinya cukup kuat, dan Alhamdulillah ia tetap memposisikan dirinya sebagai bukan salah satu dari 2 mainstream itu. Sebagaimana karya sukses lainnya, kemungkinan akan muncul produk ‘latahan’ dari Laskar Pelangi, saya sih cuma berharap mudah-mudahan saja produk ‘latahan’ nanti justru mengadopsi ide-ide kebenaran universal. Waduh, jadi pingin nulis juga deh. Oh ya, satu lagi pesan si penulis Laskar Pelangi: Jangan menulis buku dengan motivasi menjadi best seller… karena karya yang paling bermutu adalah yang datang dari hati.

Ingin

March 21st, 2007 by apop

aku ingin mencintaimu
sebagai bagian dari ketaatanku kepadaNya
bukan hanya semata karena
indahnya rasa

Window Session

May 12th, 2006 by apop

Okay, this is not the ‘dialog box’ from the microsoft windows application.

Let me tell you how I love my window. It is one of the most valuable item for me, sooo valuable that everytime i ‘use’ it,  gue sangat-sangat menikmati dan bersyukur dalam hati.

Since I moved to Banda Aceh, I had been a ‘nomaden’ person. Moved into 5 different bedrooms,  for some reasons..  Well actually, I enjoyed the ‘changing atmosphere’ effect, but however, it made me tired to pick up my stuff and move over from room to room, house to house.  But when the ‘tired’ feeling came,  I talked to myself  "oh come on, those tsunami victims even still live in tents".. So, when finally i got a bedroom in 2nd floor that has big windows…-gak ada teralisnya- i really hope i won’t move to any new house anymore….the big window is the reason! I am so excited about it.

For most people, ritual pagi membuka jendela dan menghirup udara pagi mungkin biasa-biasa aja. But for me, it’s special thing that makes you want to thank God hundred times, and that’s even more when i’m here. How wonderful life would be, just to realize i’m alive and healthy…bisa liat pegunungan bukit barisan dan pohon-pohon kelapa dan langit Banda yang biru
Bisa ’satu level’  dengan burung-burung gereja yang berkicau, melompat, berbaris di kabel tiang listrik. Bisa sesekali mengamati tetangga sebelah yang selalu mencium anak isterinya sebelum pergi kerja… it’s interesting how i could watch these people around from the top, and  they do not even realize it. So natural…Ada yang ngelamun, main dengan bayinya, ngelap-ngelap motornya.

From this window, gue bisa menghirup aroma kopi aceh yang menghablur dengan udara pagi, dari warung kopi tepat di seberang jendela ini. Watching si Bapak pemilik warung kopi melayani tamunya. Bapak yang pernah mengetuk-ngetuk pintu rumah gue untuk mengembalikan uang 50 ribuan -uang yang salah gue kasih untuk bayar kopi, yang gue kira uang seribuan-. 
Lucky to have such honest & nice neighbor like him!

Oh, one more thing….This house i live surrounded by 2 elementary schools. So…one of the scenery that i love most is; watching those cute little kids walking towards their school…..  barisan makhluk-makhluk kecil yang belum akil baliq dengan seragam putih merah dan tas ransel biru pembagian dari UNICEF . They write down their names on that UNICEF blue backpack, sometimes with a BIG size, to make a difference, because everyone at the schools wearing the same UNICEF blue backpack. Sometimes it seems that their body are too small for that bag…. bikin gue senyum-senyum sendiri ngeliatnya. Kasian campur geli…kok kecil banget udah sekolah siiih? Nggak bisa tunggu perbandingan dengan tas ransel nya mencapai 2,5 : 1 ? kalo sakit punggung gimana…? hihihi…menyenangkan…

Well, there is one other thing yang membuat gue tambah mempunyai efek emosional dengan si Jendela ini. Apalagi kalau bukan  pemuda pujaan hati main gitar di bawah jendela dan menyatakan isi hatinya…(this is a lie. tentu saja tidak se-dangdut itu) Well, not much different from that story either…  For some good reasons, me and this guy have agreed to not meet each other dalam rentang waktu yang belum disepakati dalam memorandum. Tapi bagaimanapun, when this guy doing such crazy thing just to look at me on my window, looking  from that warung kopi and smiled and staring, that made my heart laugh and melt, made me want to jump over this window like a little child… :D what a crazy thought.

I truly hope  this window session will never end.  I’m eager to see how colorful life would be, only by staring and looking something, someone,  through this ‘emotional item’ :) benar juga kata orang, gue suka mengemotionalkan benda-benda mati. Termasuk handphone butut yang dipertahankan karena alasan emosional dan historis….untung bukan keris dan cincin akik.

well…

May 10th, 2006 by apop

"Jika ada kebenaran dalam hati,
  maka akan ada kebenaran dalam watak.
   
  Jika ada kebenaran dalam watak,
  maka akan ada keselarasan dalam Rumah Tangga.
   
  Jika ada keselarasan dalam Rumah Tangga,
  maka akan ada ketertiban dalam Negara.
   
  Jika ada ketertiban dalam Negara,
  maka akan ada kedamaian di Dunia."
   
  Kung Fu Tze / Kong Hu Cu

kadar syukur

April 27th, 2006 by apop

hari boleh sama berat, masalah boleh makin banyak…
tapi kadar syukur dan count the blessing yang bikin gue bisa have a happy day today…
even in the hardest days…

thank God I’m alive… thank God I have problems… Thank God I have a complicated job with people complaining around… and have a unexpected love life like a roller coaster.
:)

Banda Aceh, 28 April 2006
1 tahun BRR - 34 tahun mom & dad

this is my role..

August 9th, 2005 by apop

and it’s not so easy

to be

me

tes tes satu dua tiga..

July 9th, 2005 by apop

kenapa ya? ada seorang ibu, anaknya 13, anggota DPR pula, dalam sehari masih sempet baca quran minimal 1 juz.. dan menurut teman2nya, beliau kalau datang rapat atau pengajian ruting enggak pernah terlambat, selalu on time, walaupun rumahnya di depok dan rapatnya di jakarta pusat, gak pernah pake alesan macet, or anak saya ini, itu.. buat menjustifikasi keterlambatan seperti yang lainnya.

Wahai Yang Menguasai Dimensi Waktu & Ruang dan Luasnya Alam Semesta ini, emang bener deh itu ayat yang bilang bahwa  "Engkau  ‘meliputi segala sesuatu". Dimensi waktu & ruang adalah kepunyaanMu. Jadi, apa sulitnya menundukkan waktu -yang Engkau kuasai-  demi seseorang yang benar2 ikhlas menjalankan apa Yang Engkau Suka? Waktu dalam genggamanNya.

Yang tidak mungkin dilakukan dalam 24 jam menjadi mungkin buat hamba kesayanganNya. 24 jam cukup buat seorang ibu sholihah beranak 13 dan anggota DPR  untuk melaksanakan kegiatannya  buat keluarga dan masyarkat, dan selalu sempet juga setiap malam ‘curhat’ kepadaNya,  Yang Menguasai Ruang dan Waktu.

Pantesan…. walaupun gue masih single, tapi 24 jam tidak pernah cukup bagi ordinary girl like me, yang masih suka males dan bandel dan belum juga bisa jadi hamba kesayanganNya. Masih berasa ‘enggak sempet’. Waktu memang relatif.